June 3, 2011

Mata Uang Euro Dan Tekanan Secara Fundamental.

Memasuki bulan kedua tahun ini, European Central Bank (ECB) memutuskan untuk tetap menahan tingkat suku bunga acuan (Minimum Bid Rate) pada tingkat 1.00%. Dengan demikian kebijakan tingkat suku bunga sangat rendah ( Zero Interest Rate Policy, ZIRP) di kawasan ekonomi tersebut telah berjalan selama hampir 2 tahun sejak pertama kali ditetapkan berada pada angka 1.00% pada 7 Mei 2009.

Dalam paparannya Presiden ECB Jean-Claude Trichet menyampaikan bahwa alasan keputusan dewan pimpinan ECB untuk tetap menahan suku bunga acuan tersebut adalah bahwa kebijakan tersebut masih sesuai dengan kondisi perekonomian yang ada. Walaupun terdapat indikasi kuat terjadi dorongan kenaikan harga dalam jangka pendek, namun sejauh ini ECB menyimpulkan bahwa kecenderungan terjadinya inflasi tersebut masih berada di dalam tingkat yang stabil yaitu masih berada di bawah angka 2.00%.

Lebih lanjut Presiden ECB Jean-Claude Trichet menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi riil di kawasan Euro pada kuartal III tahun lalu yang mencapai 0.3% dapat disusul dengan pertumbuhan positif pada kuartal IV 2010, dimana sampai sejauh ini data-data yang telah terkumpul menunjukkan arah demikian.

Sektor perdagangan internasional diperkirakan dapat menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi, dimana kinerja sektor tersebut diperkirakan ikut membaik mengiringi proses recovery pada ekonomi global. Dan hal tersebut juga diiringi oleh cukup tingginya tingkat keyakinan bisnis di kawasan ekonomi tersebut dan permintaan domestik dari sektor swasta diperkirakan dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi.

Adapun ditinjau dari sisi moneter, Presiden ECB menilai bahwa turunnya kinerja pada sektor ini seperti yang diperlihatkan oleh turunnya nilai bebeberapa besaran moneter, lebih disebabkan adanya kejadian-kejadian di luar dugaan pada bulan November 2010 lalu dan bukan disebabkan oleh melemahnya dinamika pada sektor moneter.

Pertumbuhan M3 annual dilaporkan turun menjadi 1.7% sampai pada Desember 2010 dari 2.1% pada bulan November 2010. Demikian juga tingkat pertumbuhan kredit terhadap sektor swasta annual dilaporkan turun menjadi 1.9% pada Desember 2010 dari 2.0% pada November 2010.

Munculnya Keraguan Investor Terhadap Euro.

Sejauh ini pelaku perdagangan valuta asing merespon cukup negatif terhadap perkembangan kebijakan ECB untuk menahan suku bunga kendati terdapat sinyalemen tekanan inflasi. Dengan adanya tekanan tekanan inflasi tersebut pada dasarnya terdapat ekspetasi pada pelaku pasar bahwa ECB memberikan sinyal kemungkinan dinaikkannya tingkat suku bunga acuan.

Kebijakan ECB yang belum menunjukkan sinyal positif secara cukup meyakinkan tersebut diperkirakan dapat menambah sentimen negatif terhadap mata uang Euro dimana permasalahan pada sektor publik yang cukup besar di kawasan ekonomi tersebut masih menjadi perhatian utama dalam menilai seberapa jauh perekonomian Uni Eropa dapat bertahan pada proses recovery ekonomi.

Buruknya kinerja sektor fiskal Yunani dan Irlandia menyebabkan negara-negara tersebut mengalami defisit anggaran yang luar biasa dan memaksa dilakukannya kebijakan penyelamatan oleh Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF). Selain kedua negara tersebut, permasalahan sektor fiskal di negara-negara Eropa lainnya juga diyakini cukup besar walaupun permasalahan tersebut belum mencuat ke permukaan secara terbuka.

Perkembangan ini telah menggiring kepada isu yang cukup sensitif yaitu mulai berkurangnya kepercayaan terhadap mata uang Euro sebagai mata uang tunggal bagi ekonomi Uni Eropa. Mengacu kepada Bloomberg Global Poll yang dipublikasikan pada 26 Januari lalu, mayoritas investor pada jajak pendapat tersebut memperkirakan bahwa paling tidak satu negara akan keluar dari keanggotaan Uni Eropa dalam 5 tahun mendatang.

Walaupun hal tersebut masih berupa hasil jajak pendapat, namun perkembangan tersebut memberikan suatu gambaran cukup besarnya tantangan bagi Uni Eropa untuk menghadapi permasalahan krisis ekonomi regional.


Tekanan Secara Fundamental Terhadap Pergerakan Mata Uang Euro.




Secara umum, perkembangan krisis utang pemerintah negara-negara Eropa telah memberikan tekanan yang cukup kuat terhadap mata uang Euro, sehingga Euro cenderung melemah sampai pada akhir tahun 2010 seperti yang terlihat pada gambar diatas.

Memasuki tahun 2011 yaitu pada bulan Januari lalu Euro memperoleh momentum untuk rebound dan mata uang uang ini cenderung bergerak menguat. Perkembangan positif pada ekonomi Jerman memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam terciptanya momentum tersebut. Indikator German Ifo Business Climate dilaporkan membaik menjadi 110.3 dari nilai 109.8 pada periode sebelumnya, demikian juga indikator German ZEW Economic Sentiment dilaporkan melejit naik menjadi 15.4 dari nilai 4.3.

Namun demikian walaupun secara teknikal momentum menguatnya Euro tersebut belum dapat dikatakan telah berakhir, perkembangan arah kebijakan moneter dan fiskal seperti yang telah dikemukakan sebelumnya dapat memberikan indikasi bahwa momentum menguatnya Euro seperti yang ditunjukkan pada pergerakan selama bulan Januari lalu, mulai terkikis.

Laporan awal PDB kuartalan Inggris yang menunjukkan terjadinya pertumbuhan negatif pada ekonomi Inggris selama kuartal IV 2010, memberikan kejutan negatif dan menularkan sentimen Pnegatif terhadap ekonomi Uni Eropa. Laporan Preliminary GDP q/q Inggris menunjukkan negara tersebut mengalami perlambatan ekonomi -0.5% setelah pada kuartal sebelumnya tumbuh 0.7%.

Sentimen negatif terhadap mata uang Euro juga diperbesar oleh membaiknya kinerja perekonomian Amerika Serikat, sehingga sampai sejauh ini secara relatif mata uang Dollar AS menujukkan prospek yang lebih baik dibandingkan Euro.

Sehingga dengan demikian, jika laporan data-data fundamental seperti French Prelim GDP q/q dan German Prelim GDP q/q yang dijadwalkan akan dirilis pertengahan Februari ini tidak menunjukkan sinyalemen positif, maka terdapat kemungkinan menghilangnya momentum menguatnya mata uang Euro yang dimulai sejak awal tahun 2011.

No comments: